Heboh Dugaan Pelecehan Seksual di Unsoed, DPRD Jateng Desak Pemecatan Oknum Guru Besar

Messy Komisi E DPRD Jateng (Foto : RRI)
Messy Komisi E DPRD Jateng (Foto : RRI)

Banyumas, Lodji.id – Dugaan kasus pelecehan seksual yang melibatkan seorang guru besar Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Jawa Tengah, menuai sorotan luas. Seorang mahasiswi disebut menjadi korban dalam kasus yang saat ini ramai diperbincangkan di media sosial.

Meski identitas lengkap dosen tersebut belum diumumkan secara resmi, warganet banyak menyebut bahwa terduga pelaku berasal dari Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unsoed.

Isu ini tak hanya mengundang reaksi di dunia maya. Sejumlah mahasiswa FISIP Unsoed juga turun ke jalan menggelar aksi unjuk rasa, menuntut agar kampus bertindak tegas dengan memberhentikan dosen yang bersangkutan.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi E DPRD Jawa Tengah, Messy Widiastuti, menilai bahwa kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus bukan lagi hal baru, bahkan kerap terjadi berulang kali.

“Ini menunjukkan adanya kemerosotan moral. Guru itu seharusnya jadi panutan, bukan malah mencederai martabat dunia pendidikan. Maka perlu ada pembinaan dan pengawasan menyeluruh. Dunia akademik tak boleh jadi tempat yang membiarkan tindakan seperti ini tumbuh,” ujar Messy, Selasa (5/8/2025).

Ia menegaskan bahwa menjadi pendidik tak cukup bermodal akademik semata. Moral dan integritas harus menjadi bagian utama dalam proses seleksi dan pembinaan dosen.

“Kalau mau jadi dosen, ya harus punya moral yang baik. Dan kalau sudah terbukti melanggar, sanksinya harus tegas. Tak layak lagi mengajar. Ini perlu jadi pelajaran, agar tidak terjadi lagi di masa depan,” tambahnya.

Messy pun mendesak agar pelaku — jika terbukti — diberhentikan secara permanen. Ia menilai sanksi administratif saja tidak cukup untuk mencegah kejadian serupa.

“Kalau perlu dipecat, dan tidak diberi ruang lagi untuk mengajar. Kita butuh dosen bermoral agar generasi penerus juga tumbuh dengan moral yang baik,” tegasnya.

Di sisi lain, Messy juga menyoroti pentingnya pendampingan terhadap korban. Menurutnya, tanpa dukungan psikologis yang memadai, korban bisa mengalami gangguan serius dalam menyelesaikan pendidikannya.

“Kalau tidak didampingi, bisa stres, skripsi tak selesai, gagal sarjana. Kampus dan lingkungan sekitarnya harus menciptakan ruang yang aman dan suportif bagi korban. Dampaknya bukan hanya hari ini, tapi bisa menghancurkan masa depan mereka,” jelasnya.

IRL

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *